Viral Foto Awan Unik Namanya Awan Lentikular

Viral Foto Awan Unik di Daerah Tawangmangu, Namanya Awan Lentikular

Viral Foto Awan Unik Namanya Awan Lentikular

Sebuah unggahan foto yang memperlihatkan awan seperti putaran gasing di kawasan Tawangmangu, Jawa Tengah ramai dibicarakan di media sosial Instagram.

Unggahan tersebut salah satunya diunggah oleh akun @agendasolo.

“Awan di Lawu, view dari kawasan Tawangmangu – Sarangan pagi ini. @rikaverrykurniawan,” tulis akun tersebut. Unggahan foto itu telah disukai lebih dari 14.000 pengguna. Berbagai komentar disampaikan warganet. Ada yang menganggapnya sebagai fenomena awan yang unik.

“Td pagi jam 6’an mau ke Klaten, ngelihat awannya speti itu. Asli bagus bgt awannya td,” tulis akun @virgirima.

“Awan berbentuk seperti itu wajar, & yg terjadi itu adalah pertanda adanya badai d atas,” tulis akun @lastsanjaya.

Penjelasan BMKG: awan lentikular

Fenomena apa yang diabadikan dalam foto itu?

Kepala Subbid Peringatan Dini Cuaca BMKG Agie Wandala Putra menjelaskan fenomena awan tersebut merupakan awan lentikular.

Menurut Agie, awan lentikular terbentuk ketika udara bergerak melewati pegunungan. Udara tersebut kemudian mendapatkan pendinginan yang cukup sehingga terjadi kondensasi yang menghasilkan awan.

Viral Foto Awan Unik Namanya Awan Lentikular
Viral Foto Awan Unik Namanya Awan Lentikular

“Awan lentikular memiliki karakteristik yang spesial karena posisinya tidak bergerak layaknya awan jenis lainnya dan berbentuk padat,” kata Agie.

Awan lentikular bisa berada di suatu lokasi yang sama dalam waktu yang lama karena memiliki dukungan udara yang naik di atas pegunungan secara berkelanjutan.

Ia menjelaskan, awan lentikular bisa memiliki berbagai bentuk. Bentuknya dipengaruhi topografi gunung dan tegak lurus terhadap arah angin.

Meski awan lentikular dapat ditemui di area gunung, tak menutup kemungkinan awan seperti itu juga bisa terbentuk di atas daratan luas.

Fenomena ini terjadi karena adanya perbedaan kecepatan angin di berbagai lapisan dari pertemuan massa udara basah dan dingin.

“Di gunung terdapat sebuah mekanisme yang disebut gelombang gunung, salah satu tandanya adalah awan lentikular.

Fenomena ini tidak berbahaya bagi pendaki karena tidak terjadi badai di sekitar awan tersebut,” ujar Agie.

Namun, lanjut Agie, yang perlu diwaspadai adalah suhu dingin yang menjadi pendukung pembentukan awan tersebut.

Selain itu, awan lentikular bisa menjadi masalah bagi penerbangan yang melintas di kawasan itu.

Penyebabnya, karena gelombang gunung dan pusaran angin yang kencang dapat menyebabkan turbulensi ringan pada pesawat.


Sumber

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.